penelitian yang dihasilkan memiliki kebaruan dan akan memberikan dampak yang nyata di bidangnya

penelitian yang dihasilkan memiliki kebaruan dan akan memberikan dampak yang nyata di bidangnya. Lebih lanjut lagi dengan dipublikasikannya hasil penelitian di tingkat Internasional maka akan dapat dibandingkan produktivitas suatu negara, institusi, perkembangan bidang keilmuan dan kolaborasi penelitian baik antar institusi maupun negara. Sebagaimana disebutkan oleh Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan Pendidikan Tinggi bahwa perbaikan mutu penelitian akan dapat mewujudkan negara yang bermutu dan berwibawa, yang salah satu indikator utamanya adalah publikasi internasional para peneliti dan akademisi, dan dalam rangka meneguhkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).
Salah satu indikator untuk melihat daya saing suatu negara dibandingkan dengan negara lainnya adalah Indeks Daya Saing Global (Global Competitiveness Index). Menurut World Economic Forum (WEF) (Schwab, 2015), yang merilis indeks tersebut, daya saing Indonesia mengalami penurunan peringkat pada Tahun 2015 menjadi peringkat 37 dari 140 negara yang disurvei, sebelumnya di Tahun 2014 berada di peringkat 34. Gambaran indeks daya saing global tersebut mengindikasikan bahwa masih terdapat permasalahan dalam pengembangan iptek dan inovasi yang perlu dilakukan oleh bangsa Indonesia.
Dalam laporan OECD dalam dokumen UNESCO Country Programming Document (UCPD) Tahun 2011, menyatakan:
“Indonesia’s expenditure on research and development was 0.08% of GDP in 2009. Increased investment in R;D could boost economic performance and competitiveness in the face of rapid growth in capabilities in countries in Asia-Pacific region. The OECD recommends that at least 3% of GDP in spent on R;D; there are however only very few countries in the world that achieve this level of spending. Most developing countries in the world spend less than 1% of GDP”.

Dari laporan OECD tersebut terlihat bahwa pengeluaran Indonesia
pada penelitian dan pengembangan adalah hanya sebesar 0,08% dari PDB pada Tahun 2009. Dapat dikatakan bahwa belanja litbang per PDB Indonesia masih sangat rendah, dan masih jauh dari rata-rata Negara OECD yang sudah di atas 2%. Padahal peningkatan investasi dalam R&D bisa meningkatkan kinerja ekonomi dan daya saing dalam menghadapi pertumbuhan pesat dalam kemampuan di negara-negara kawasan Asia-Pasifik. OECD telah merekomendasikan bahwa setidaknya 3% dari PDB dihabiskan untuk R&D, namun kenyataannya hanya sedikit negara di dunia, termaksud di Indonesia yang mencapai tingkat pengeluaran tersebut. Kebanyakan Negara berkembang (seperti di Indonesia) menghabiskan kurang dari 1% dari PDB. Pada akhirnya, minimnya anggaran R&D nasional ini dapat berdampak terhadap tingkat Human Development Index (HDI) Indonesia. Jika dibandingkan dengan beberapa negara lain, HDI Indonesia masih jauh tertinggal. Gambaran persentase belanja litbang terhadap rangking Human Development Index (HDI) pada Tabel 1.2. berikut:
Tabel 1.2. Rangking HDI, Anggaran Litbang, dan SDM Peneliti ASEAN 2007
No Rangking HDI Negara Persentase Belanja Litbang terhadap GDP Rasio Peneliti/ Juta Penduduk
1 25 Singapura 2,25 4.999
2 63 Malaysia 0,69 299
3 90 Filipina 0,11 48
4 105 Vietnam 0,19 115
5 107 Indonesia 0,05 207
Sumber: World Bank, 2007.
Dari data Bank Dunia (2007) diatas memperlihatkan adanya hubungan rendahnya persentase anggaran litbang terhadap GDP suatu negara dengan Human Development Index (HDI), termaksud di Indonesia. Dampak terbesar yang ditimbulkan dari rendahnya publikasi ilmiah peneliti Indonesia di tingkat internasional adalah rendahnya daya saing bangsa di dunia internasional, tentunya ini akan berpengaruh secara signifikan terhadap laju pertumbuhan ekonomi bangsa.
Human development index (HDI) atau Indeks pembangunan manusia merupakan salah satu indikator kemajuan pembangunan pada aspek kualitas manusia di suatu negara. Saat ini peringkat Human Development Index (HDI) Indonesia berada pada urutan 113 dunia (Tahun 2016) dengan kategori medium. Indonesia masih relatif tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti: Singapura (5), Malaysia (59) dan Thailand (87). Sebagaimana dikatakan oleh Sri Mulyani di Balairung UI Kampus Depok, Sabtu 3 Februari 2018 silam. Berikut kutipannya:
Pemerintah memiliki alokasi anggaran untuk belanja pendidikan begitu besar. Akan tetapi, hasilnya belum sesuai dengan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas rendah. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, belanja pendidikan terus meningkat signifikan dari sekira Rp208 triliun di 2009 menjadi Rp444,1 triliun untuk alokasi tahun ini. Besarnya anggaran pendidikan sedemikian meningkat seharusnya mampu membangun sumber daya manusia terutama generasi muda untuk menjadi generasi berpikiran maju, produktif dan inovatif, sehingga mampu menghadapi masa depan yang semakin kompetitif dan penuh dengan arus perubahan teknologi yang menantang. Akan tetapi, meskipun anggaran meningkat, peringkat Human Development Index (HDI) Indonesia masih relatif tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Peringkat HDI Indonesia pada 2016 berada pada urutan 113 dunia dengan kategori medium. “Peringkat ini lebih rendah dari negara di kawasan seperti Singapura (5), Malaysia (59) dan Thailand (87),” ujarnya, di Balirung UI Kampus Depok, Jawa Barat, Sabtu (3/2/2018).”

Melanjutkan penjelasan sebelumnya, bahwa pada periode Tahun 2010-2016 publikasi Indonesia di internasional masih sangat minim, hal ini jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti, Malaysia dan Thailand, Indonesia masih jauh tertinggal, berikut tabulasinya:

Tabel 1.1. Perbandingan Publikasi Internasional Indonesia di Scopus Periode 2010-2016
Tahun Malaysia Thailand Indonesia Phillipines
2016 ( April) 6.630 3.864 2.062 664
2015 24.460 11.886 6.706 2.286
2014 27.911 13.244 6.219 2.020
2013 25.004 12.171 4.997 1.881
2012 22.564 11.898 3.811 1.734
2011 20.663 10.695 3.227 1.580
2010 15.662 9.993 2.602 1.329
Sumber: Kemenristekdikti Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Direktorat Pengelolaan Kekayaan Intelektual, Buku Profil peringkat 50 besar institusi Indonesia terindeks Scopus (Jakarta: Kemenristekdikti, 2016), h. 5.

Berdasarkan data yang diolah dari Scopus di atas, jumlah publikasi indonesia yang sudah terindeks di Scopus periode tahun 2010 sampai April 2016 yang ditunjukkan dalam Tabel 1 berjumlah 29.624 artikel. Dalam Tabel 1 diperlihatkan pula bahwa perbandingan publikasi internasional Indonesia yang terindeks Scopus masih di bawah Malaysia dan Thailand, walaupun masih di atas Philipina. Sementara publikasi internasional Indonesia yang terindeks di Web of Science (Thomson), periode 2010-April 2016 berjumlah 17.636 artikel, dengan perbandingan yang sama masih di bawah Malaysia dan Thailand dan di atas Philipina. Perbandingan publikasi ilmiah internasional antara Indonesia dengan Malaysia dan Thailand periode 2010-2016 sangatlah timpang sekali. Hal tersebut membuktikan bahwa peneliti di Malaysia dan Thailand jauh lebih produktif dalam menghasilkan publikasi ilmiah internasional dibandingkan dengan peneliti di Indonesia. Meskipun demikian publikasi Indonesia di Jurnal internasional bereputasi yang terindeks saat ini terus mengalami peningkatan.
Sampai dengan saat ini berbagai upaya terus dilakukan guna meningkatkan publikasi Indonesia yang bereputasi internasional. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemristekdikti, jumlah publikasi ilmiah Indonesia terindeks Scopus per 6 April 2018 berhasil melampaui Singapura dan Thailand, adalah sebagai-berikut:
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemristekdikti, jumlah publikasi ilmiah Indonesia terindeks Scopus per 6 April 2018 berhasil melampaui Singapura dan Thailand. Jumlah publikasi ilmiah internasional Indonesia sebanyak 5.125, sementara Singapura 4.948 dan Thailand sebanyak 3.741, dan Malaysia tetap unggul dengan 5.999. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan, kuantitas publikasi ilmiah internasional Indonesia harus berbanding lurus dengan kualitasnya. “Ini merupakan pencapaian yang sangat bagus bagi Indonesia. Namun permasalahannya jumlah publikasinya
meningkat drastis, tapi sitasinya menurun. Untuk itu kualitas dari jurnal-jurnal yang ada di Indonesia harus didorong terus agar makin baik,” ujar Nasir dalam siaran persnya, Rabu (11/4/2018).

Dari data Scopus jumlah dokumen atau publikasi ilmiah seperti Jurnal Internasional, Buku, Proceeding, dan lainya yang terindex scopus peringkat perguruan tinggi di Indonesia per 1 Maret 2017, Universitas Indonesia masuk dalam peringkat kedua setelah Institut Teknologi Bandung. Berikut ini adalah rangking 10 besar perguruan tinggi di Indonesia berdasarkan publikasi ilmiah di Scopus per 1 Maret 2017: 1. Institut Teknologi Bandung; 2. Universitas Indonesia; 3.Gadjah Mada University; 4. Institut Pertanian Bogor, 5. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, 6. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 7. Brawijaya University, 8. Universitas Diponegoro, 9. Universitas Padjadjaran, 10. Hasanuddin University.
Sementara berdasarkan hasil publikasi tahunan QS University Ranking, UI berhasil mempertahankan posisinya menjadi universitas terbaik di Indonesia selama 6 tahun berturut-turut. Pemeringkatan The QS World University Rankings ini merupakan hasil analisis berdasarkan online survey yang didistribusikan ke lembaga akademik di seluruh dunia, terdiri dari masukan para Akademisi, masukan para Tenaga Kependidikan, rasio jumlah mahasiswa dan dosen per fakultas, jumlah sitasi per fakultas, serta jumlah mahasiswa dan dosen asing. Peringkat Universitas Indonesia di tingkat dunia naik ke posisi 277 dunia. Sebelumnya UI berada di peringkat 325 dunia. Hasil pemeringkatan itu dilakukan oleh Quacquarelli Symonds (QS) World University Ranking 2017/2018 terhadap lebih dari 959 Perguruan Tinggi di 84 negara di dunia. Hasil pemeringkatan tersebut dirilis Kamis (08/6/2107) di www.topuniversities.com University Ranking itu sendiri merupakan pemeringkatan resmi yang dijadikan acuan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI untuk mengukur kualitas kelembagaan Perguruan Tinggi di Indonesia menuju World Class University
Universitas Indonesia saat ini menduduki peringkat pertama sebagai universitas terbaik di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, posisi teratas selalu diperebutkan oleh tiga kampus ternama Indonesia, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada dan Institut Teknologi Bandung yang silih berganti memperebutkan posisi 1,2 dan 3. Di tingkat Asean yang terdiri dari ratusan universitas yang tersebar di sepuluh negara, Universitas Indonesia menduduki peringkat keempat, di bawah Universitas KAIST (Thailand) yang menduduki peringkat ketiga. Sementara itu, peringkat 1 dan 2 diisi oleh dua Universitas dari Singapura yaitu Nanyang Technological University di peringkat kedua dan National University of Singapore berada di peringkat pertama. Universitas Indonesia masuk dalam 50 besar daftar universitas terbaik di Asia, tepatnya berada pada posisi 47. Untuk posisi 48 juga diduduki oleh universitas dari Indonesia lainnya yaitu Universitas Gadjah Mada. Sementara itu, peringkat pertama diduduki oleh universitas asal negeri sakura yaitu University of Tokyo. Berbeda halnya dengan dua universitas dari Indonesia yang masuk ke peringkat 50 besar Asia, universitas terbaik asal negara Malaysia yaitu Universiti Teknologi MARA hanya bisa menempati peringkat 91. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan universitas di Indonesia jauh lebih baik daripada Universitas di Malaysia.
Di kancah dunia, walau tak bisa berbicara banyak, namun Universitas Indonesia cukup bisa membuktikan kualitasnya dengan menduduki peringkat 534 dari puluhan ribu universitas yang ada di dunia. Sementara itu, ranking 1 hingga 15 didominasi oleh universitas yang ada di Amerika seperti Massachusetts Institute Technologhy (1), Harvard University (2) dan Stanford University (3).
UI simultaneously strives to be one of the leading research university that shown by UI as the only university in Indonesia that enters the top 100 universities in Asia and ranked 1st in Indonesia (version QS-WUR). UI seeks to achieve the highest level of distinction in discovering, developing and diffusion of advanced knowledge regionally and globally with various academic invention and research activities. QS World University Ranking #=292; QS WUR By Subject Ranking #151-200; Graduate Employability Ranking #251-300; Asian University Rankings #54

UI secara terus menerus berusaha untuk menjadi salah satu
universitas riset terkemuka di dunia. Hal ini telah UI buktikan sebagai satu-satunya universitas di Indonesia yang masuk kedalam 100 universitas teratas di Asia dan peringkat 1 di Indonesia (versi QS-WUR). Sampai dengan saat ini UI terus berupaya untuk mencapai tingkat tertinggi dalam menemukan,